PENGGALIAN DAN PENGEMBANGAN POTENSI GURU MELALUI COACHING SUPERVISI AKADEMIK
Oleh : Sekar Gumilang
1.1 Konsep Coaching Supervisi Akademik
Guru sebagai pendidik dan pengajar, selayaknya memiliki empat kompetensi dasar diantaranya kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional. Kompetensi tersebut perlu digali dan ditingkatkan guna memberikan tuntutan terbaik untuk peserta didik, sebagai mana yang tertuang dalam filosofi KHD bahwa pendidik Pendidikan (opvoeding) memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggitingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat.
Beranjak dari filosofi di atas, setiap guru tentunya mengalami hambatan dan tangtangan dalam proses mengajar dan mendidik tersebut. hambarn dan tantangan ini selayaknya dijadikan fokus untuk setiap pendidik untuk menemukan solusi terbaik guna memperbaiki kualitas pendidikan. Salah satu cara untuk menemukan solusi dari kendala yang dihadapi adalah adanya proses kolaborasi antara teman sejawat melalui "coaching".
Coaching merupakan proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atad performa kerja, pengalaman hidup. Pada dasarnya coaching dipicu ada hal yang ingin dicapai baik dalam penguatan potensi diri dalam praktek pengajaran, maupun inginnya solusi dan ide yang dikembangkan oleh coacheenya. dalam prosesnya coaching tiidak harus dengan seorang pakar, akan tetapi harus ditutntut untu mampu berpikir kesa, curius.
Proses coaching membangun kemitraan yang setara dan coachee sendiri yang mengambil keputusan , dan coachee sendiri hanya menghantarkan melalui mendengar aktif, dan melontarkan pertanyaan , dan coacheelah yang membuat keputusan sendiri.
Paradigma berpikir dan prinsip coaching, yakni mendasar pada maksud dan tujuan coaching itu sendiri yakni mengubah efektifitas pengambilan keputusan, paradigma berpikir (mental mode) dan persepsi serta membuasakan reflleksi, dengan tujuan menginkatkan dan membiasakan belajar mandiri; mengelola diri sendiri memantau diri sendiri l memodifikasi diri sendiri.
Adapun kompetensi inti coaching adalah : (1) kehadiran penuh; mendengarkan aktif; dan mengajukan pertanyaan berbobot. dalam hal ini seorang coach berfokus pada komunikasi coachee. Melalui teknik coaching diantarantaa merangkum pertanyaan coachee; memghindari kata mengapa; lepas dari judgmen, mengajukan pertanyaan yang berbondong-bondong.
1.2 Coaching dalam Refleksi
Setelah mempelajari modul tentang coaching supervisi, penulis merasa hal-hal yang baru dan tercerahkan. Saat awal konsep coaching ini menemukan solusi yang berasal dari dua belah pihak melalui kepekatan atau hal-hal lain yang merujuk pada sesuatu yang solutif, tetapi ternyata hal demikian bukankan konsep coaching sebenarnya. situasi dan kondisi dalam mempelajari materi seharusnya senantiasa di pahami secara contunue, sehingga tidak akan ada mata rantai yang terputus nyang menyebabkan distructionthink. keterlibatan penulis dalam proses pemahaman rangkaian coaching dilaksanakan melalui kolaborasi dengan rekan CGO lainnya, sehingga mampu menggali diri serta saling memberikan umpan balik terhadap rekan lainnya. proses latihan yang dilakukan samai praktik nyata dilakukan berdasarkan alur yang terdapat pada alur RASA.

