Kamis, 25 Juli 2024

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.3

 PENGGALIAN DAN PENGEMBANGAN POTENSI GURU MELALUI COACHING SUPERVISI AKADEMIK

Oleh : Sekar Gumilang

1.1 Konsep Coaching Supervisi Akademik

    Guru sebagai pendidik dan pengajar, selayaknya memiliki empat kompetensi dasar diantaranya kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional. Kompetensi tersebut perlu digali dan ditingkatkan guna memberikan tuntutan terbaik untuk peserta didik, sebagai mana yang tertuang dalam filosofi KHD bahwa pendidik Pendidikan (opvoeding) memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggitingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. 

    Beranjak dari filosofi  di atas, setiap guru tentunya mengalami hambatan dan tangtangan dalam proses mengajar dan mendidik tersebut. hambarn dan tantangan ini selayaknya dijadikan fokus untuk setiap pendidik untuk menemukan solusi terbaik guna memperbaiki kualitas pendidikan. Salah satu cara untuk menemukan solusi dari kendala yang dihadapi adalah adanya proses kolaborasi antara teman sejawat melalui "coaching".

    Coaching merupakan proses kolaborasi yang berfokus pada solusi,  berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atad performa kerja,  pengalaman hidup. Pada dasarnya coaching dipicu ada hal yang ingin dicapai baik dalam penguatan potensi diri dalam praktek pengajaran, maupun inginnya solusi dan ide yang dikembangkan oleh coacheenya.  dalam prosesnya coaching tiidak harus dengan seorang pakar, akan tetapi harus ditutntut untu mampu berpikir kesa, curius. 

    Proses coaching membangun kemitraan yang setara dan coachee sendiri yang mengambil keputusan , dan coachee sendiri hanya menghantarkan melalui mendengar aktif, dan melontarkan pertanyaan , dan coacheelah yang membuat keputusan sendiri.

    Paradigma berpikir dan prinsip coaching, yakni mendasar pada maksud dan tujuan coaching itu sendiri yakni mengubah efektifitas pengambilan keputusan, paradigma berpikir (mental mode) dan persepsi serta membuasakan reflleksi, dengan tujuan menginkatkan dan membiasakan belajar mandiri; mengelola diri sendiri memantau diri sendiri l memodifikasi diri sendiri. 

    Adapun kompetensi inti coaching adalah : (1) kehadiran penuh; mendengarkan aktif; dan mengajukan pertanyaan berbobot.  dalam hal ini seorang coach  berfokus pada komunikasi coachee. Melalui teknik coaching diantarantaa merangkum pertanyaan coachee; memghindari kata mengapa; lepas dari judgmen, mengajukan pertanyaan yang berbondong-bondong.

1.2 Coaching dalam Refleksi

    Setelah mempelajari modul tentang coaching supervisi, penulis merasa hal-hal yang baru dan tercerahkan. Saat awal konsep coaching ini menemukan solusi yang berasal dari dua belah pihak melalui kepekatan atau hal-hal lain yang merujuk pada sesuatu yang solutif, tetapi ternyata hal demikian bukankan konsep coaching sebenarnya. situasi dan kondisi dalam mempelajari materi seharusnya senantiasa di pahami secara contunue, sehingga tidak akan ada mata rantai yang terputus nyang menyebabkan distructionthink.  keterlibatan penulis dalam proses pemahaman rangkaian coaching dilaksanakan melalui kolaborasi dengan rekan CGO lainnya, sehingga mampu menggali diri serta saling memberikan umpan balik terhadap rekan lainnya.  proses latihan yang dilakukan samai praktik nyata dilakukan berdasarkan alur yang terdapat pada alur RASA.

Aksi Nyata Coaching rekan sejawat 


Demonstrasi Kontekstual

1.3. Analisis proses
 
    Melalui praktek dalam demosntrasi kontekstual dan aksi nyata, penulis melihat satu analisis pembelajaran, bahwa dalam melakukan coaching, kadang-kadang asumsi pribadi akan muncul melalui rangkaian solusi yang ditawarkan oleh coache itu sendiri, pada pada prisnsipnya dalam proses coaching, seorang coach hanya berperan sebagai penghantar untuk menemukan solusi yang dimunculkan oleh coachee itu sendiri.
    Tantangan bagi seorang coach adalah, bagaimana strategi yang dimunculkan di saat menemukan coache yang tidak terbuka dalam menyampaikan ide, yaitu menggali dan menemukan pertanyaan yang berbobbot, segingga present sangat dibutuhkan untuk mengejar pertanyaan berdasarkan dari pernyataan atau cerita yang terungkap dari sang coachee.






Jumat, 05 Juli 2024

 

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.2

PEMBELARAN SOSIAL DAN EMOSIONAL

Oleh : Sekar Gumilang

Kesimpulannya atas perubahan pengetahuan keterampilan, sikap sebagai pemimpin perubahan, tidak lain bahwa guru selayaknya  memiliki kompetensi sosial dan emosional yang baik dan lebih efektif dan kecenderungan untuk lebih Tangguh dan merasa nyaman di kelas. Dengan demikian para murid dapat belajar dengan nyaman, dan guru pun dapat bekerja dnegan nyaman pula.

Kaitannya pembelajaran sosial dan emosional yang telah dipelajarai dengan modul-modul sebelumnya adalah adanya realtivitas pembelajaran yang berpusat pada musri yang mengacu pada filosofi Pendidikan KHD dengan menuntut kodrat alam dan zaman, sehingga mampu berkembang secara optimal yang tentunya didukung dengan budaya positif dan iklim yang kondusif baik di kelas maupun di lingkungan sekolah secara luas.

Melalui PSE yang merupakan satu upaya untuk menciptakan iklim positif untuk menyamanan dan kondusifitas siswa di kelas, memberikan motivasi yang kuat dalam proses pembelajaran, dimana muncul kesadaran diri, managemenen diri, keterampilan berelasi, kesadaran sosial dan pengambilan kepuusan yang bertanggungjawab, yang secara utuh telah dimunculkan melalui integrasi dalam pembelajaran maupun pengajaran eksplisit.

Sebelum memperlajari modul ini, saya meyakini bahwa pembelajaran yang telah saya lakukan sudah mampu mengakomodir seluruh kebutuhan siswa baik secara mental maupun konseptual, akan tetapi setelah mempelajari PSE ternyata banyak hal yang harus saya gali, dimana saya harus mampu mengeksplorasi sebuah pembelajaran yang dapat menggali dan membangkitkan 5 kompetensi sosial emosional yang terdiri atas kesadaran diri; managemen diri, keterampilan berelasi; kesadarab sosial dan mengambil keputusan yang bertanggungjawab.

Berkaitan dengan kebutuhan belajar dan lingkungan yang aman dan nyaman untuk memfassilitasi keseluruhan individu di sekolah agar dapat meningkatkan kommpetensi akademik maupun kesejahteraan psikologis, 3 hal yang mendasar dan penting saya pelajari adalah  (1)  upaya peningkatan perilaku positif bagi siswa melalui keteladanan guru ; (2) menciptakan lingkungan belajar yang suportif  contohnya melalui  pengurangan prilaku negative (pendekatan personal dan intrapersonal) (3) peningkatan diri sendiri atas respek dan toleras terhadapa orang lain dan lingkungan sekitar, melalui pengurangan tingkat sress pada siswa serta peningkatan prforma akademik siswa.

Perubahan yang saya terapkan di sekolah :

1.                   Bagi siswa: penerapan minfulness sebagai dasar penguatan 5 KSE , salahsatunya dengan melalui  memberikan pemahaman prinsip kesadaran penuh, praktik kesadaran penuh; dan implementasi pembelajaran sosial emosional di kelas dan di sekolah, baik memalui integrasi pembelajaran maupun pengajaran eksplisit.

2.                   Bagi guru: memodelkan atau menjadi teladan penerapan 5 KSE; belajar melalui pembiasaan merefleksi kompetensi; berkolaborasi; mengembangkan pola pikir bertumbuh serta menbuat komunita belajar  professional.

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.3

 PROGRAM BERDAMPAK POSITIF BAGI MURID  MELALUI PENGELOLAAN ASET oleh: Sekar Gumilang A.        Refleksi      Pembelajaran pada modul 3 berka...