Senin, 24 Juni 2024

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.1

PENDEKATAN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI

 DALAM PERSPEKTIF GURU SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

Oleh :Sekar Gumilang  


        Pembelajaran melalui pendekatan diferensiasi , merupakan salaha satu langkah yang selayaknya dipersiapkan guru untuk memenuhikebutuhan belajar siswa. Pembelajaran berdiferensiasiitu sendiri menjadi satu konsep pendekatan pembelajaran siswa, dimana guru harus mampu mengakomodir bagaimana para siswa dapat belajar memahami teks dan kontekstual dalam mata pelajaran yang diampu.

        Melalui identifikasi kesiapan belajar siswa, guru dapat menentukan pendekatan berdiferensiasiapa yang lebih tepat, apakah diferensiasi proses, konten atau produk. Hal ini dapat memberikan kesempatan pembelajaran siswa melalui minat, gaya belajar, atau bahkan hal yang akan membuat tertarik siswa, sehingga, bahkan mampu menggali dan menguatkan kompetensi siswa di bidang tertentu.

        Pembelajaran Berdiferensiasi sebagai  usaha guru untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu murid.  Berdasarkan pernyataan  Tomlinson (1999:14)  bahwa dalam kelas yang mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi, seorang guru melakukan upaya yang konsisten untuk merespon kebutuhan belajar murid.

         Di sisi lain, pembelajaran berdiferensiasi merupakan serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang disusun guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Keputusankeputusan yang dibuat tersebut adalah yang terkait dengan: tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas; bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar murid; bagaimana guru menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi;  bagaimana guru memastikan setiap murid di kelasnya tahu bahwa akan selaluada dukungan untuk mereka di sepanjang proses belajar mereka; manajemen kelas yang efektif. Bagaimana guru menciptakan prosedur, rutinitas, metode yang memungkinkan adanya fleksibilitas, namun juga struktur yang jelas, sehingga walaupun murid melakukan kegiatan yang mungkin berbeda-beda, namun kelas tetap dapat berjalan secara efektif; penilaian berkelanjutan. Bagaimana guru menggunakan informasi yang didapatkan dari proses penilaian formatif yang telah dilakukan, untuk dapat menentukan murid mana yang masih ketinggalan, atau sebaliknya, murid mana yang sudah lebih dulu mencapai tujuan belajar yang ditetapkan, dan kemudian menyesuaikan rencana dan proses pembelajaran; pembelajaran berdiferensiasi haruslah berakar pada pemenuhan kebutuhan belajar murid dan bagaimana guru merespon kebutuhan belajar tersebut. Dengan demikian, Kita perlu memperhatikan kebutuhan belajar muridmuridnya dengan lebih komprehensif, agar dapat merespon dengan lebih tepat terhadap kebutuhan belajar murid-muridnya tersebut.

         Sebagai salah satu contoh saat melalukan pendekatan pembelajaran berdiferensiasi produk. Dalam pembelajaran seni budaya,. dalam konteks pembelajaran gamelan degung,  setiap siswa mempiliki keunikan dalam daya serap musikalitas yang bervariatif. Ada yang mampu menabuh dengan pola tabuhan sederhana, ada yang mampu mempraktekan pola itabuhan yang komplek, atau bahkan sama sekali hanya mampu menabuh denganpola tabuhan  paling sederhana.

           Untuk membuat siswa-siswi  merasa lebih percaya diri, saya mengelompokan siswa berdasarkan daya intake tadi. Melalui identifikasi kesiapan siswa, minat siswa dan profil belajar murid yang disesuaikan dengan permainan alat musik dengan kompleksitas tertentu, mereka akan tetap kerakomodir sesuai dnegan kemampuan mereka masing-masing

 

                    mudah                                                 sedang

      

       

                                    Sulit                          sangat sulit

           Melalui analisis kesiapan siswa melalui assesmen diagostik, serta proses identifikasi muslikalitas siswa sebelumnya  melalui tes pola ritmis sederhama menuhu ritmis, akan terlihat daya kemampuan siswa dalam  konteks musiikalitas.   

        Pembelajara berdiferensiasi prses di atas, guru akan lebih mudah memberikan penilaian sesuai dengan tingkat  pola tabuhan  sederhama  menujut tabuhan yang kompleks, atau  sulit. Sebagai guru penggerak yang memiliki peran, salahsatunya berperan dalam pemimpin pembelajaran, ia harus mampu menjadi leader dalam menciptakan pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan. *¬sekar gumilang¬*

Senin, 10 Juni 2024

DISIPLIN POSITIF

 

MENUMBUHKAN LINGKUNGAN POSITIF MELALUI

PENERAPAN DISIPLIN POSITIF  DI SEKOLAH

Oleh Sekar Gumilang

   Degradasi moral kini menjadi momok yang sangat menakutkan. Pasca pandemi merupakan PR terbesar bagi kaum guru, dimana para pahlawan tanpa tanda jasa ini harus mulai menggeliat membangunkan siswa-siswi dari tidur lelapnya sebut saja mereka “ Si kaum rebahan”.

Menelisik fenomena di atas, selayaknya guru harus mampu membangun kembali karakter positif yang pada dasarnya telah dimiliki oleh peserta didik, dan tentunya hal tersbeut tidak mudah. Membangun dan menumbuhkan Kembali karaktaer positif akan mendasar dari lingkungan yang postif. Lantas bagaimana menumbuhkan lingkungan positif di sekolah sebagai salah satu upaya menguatkan Kembali karakter positf siswa?

Salah satu teori yang disodorkan oleh Dr. William Glasser dalam teori kontrolnya, di mana di dalamnya mencuit tentang disiplin positif berkaitan dengan sebuah kontrol, baik yang berasal dari internal ataupun eksternal sebagai motivasi diri dalam suatu tindakan. Ternyata, terdapat beberapa miskonsep terkait dengan control diri, yang selanjutnya bahkan menjadi satu ilusi, di antaranya Ilusi guru mengontrol murid; Ilusi bahwa semua penguatan positif efektif dan bermanfaat; Ilusi bahwa kritik dan membuat orang merasa bersalah dapat menguatkan karakter; dan Ilusi bahwa orang dewasa memiliki hak untuk memaksa. Ilusi-ilusi tersebut memberikan miskonsepsi terhadap sebuah essensi controlling, artinya  persepsi bahwa guru mengontrol murid, kritik membuat orang merasa berslah, orang dewasa memliki hak memaksa dan penguatan posotf itu sangat efektif, merupakan satu ilusi kebenaran.

Beranjak dari pemikiran glasser itulah di saat teori kontrol itu merujuk pada tujuan yang ingin dicapai oleh setiap individu, dalam bentuk sebuah motivasi internal. Di saat muncul dalam dirinya sebuah motivasi terhadap capaian sesuatu maka akan terbentuk sebuah nilai-nilai kebajikan yang diyakininya hal ini dikuatkan dengan pemikiran Dr. Diane Gossen  mengaitkan nilai-nilai kebajikan yang diyakini seseorang maka motivasi intrinsiknya akan terbangun, sehingga menggerakkan motivasi dari dalam untuk dapat mencapai tujuan mulia yang diinginkan.

Merujuk pada suatu kekuatan nilai kebajikan yang dimiliki siswa, maka hal ini akan berdampak pada tumbuh dan terciptanya lingkungan posotf, baik di sekolah maupun di lingkungan keluarga. Di saat nilai-nilai kebajikan ini tertanam dalam diri individu, maka akan tercipta suatu karakter yang positif pula.

Sebagai salah satu upaya kita sebagai pendidiksebagai garda depan dalam proses pendidikan di sekolah, selayaknya kita dapat mencimptakan dan menumbuhkan lingkungan positif di sekolah, melalui penerapan disiplin positif yang tetap  berakar pada nilai kebajikan. Mulai dari pembuatan keyakinan kelas/sekolah  yang telah disepakati bersama, selanjutnya dengan pendalaman keyakinan kelas melalui identifikasi tabel T dan Y yang berjutng pada tabel TG-BTG-TM-BTM.

 


        Proses dalam penyusuna  keyakinan kelas, selayaknya mendasar pada nilai-nilai kebajikan yang telah disebutkan sebelumnya, akan tetapi terlepas dari nilai kebajikan tersebut, keyakinan kelas merupakan hasil tinjauan dari kesepakatan setiap siswa dalam menciptakan sebuah ruang kelas dan interaksi antar siswa yang kondusif. Disaat ruang kelas dan kondisi siswa yang kondusif, maka akan lebih mudah bagi siswa dalam melaksanakan pembelajaran, yang tentunya dalam hal ini guru tetap memiliki identifikasi terkait kebutuhan-kebutuhan dasar manusia, yang harus senantiasa terpenuhi.

Sebagai salah satu upaya mennciptakan budaya positif, maka diperlukan sosialisasi dan diseminasi dengan warga sekolah. Seperti halnya pada kegiatan aksi nyata, CGP melakukan diseminasi dnegan harapan akan memberikan progres yang membawa pada satu paradigma perubahan terkait budaya positif dan tergerak untuk mengimplementasikan di lingkungan sekolah.




 

Dalam proses diseminasi, guru diajak untuk mempraktikan langsung pada penyusunan keyakinan sekolah, yang mana sebelumnya diberikan gambran penyusunan keyakinan kelas mellaui tampilan video yang telah dibuat oleg CGP. Setelah eserta memahami alur penyususn keyakinan kelas, selanjutnya guru  diberikan pendampingan dalam membuat keyakinan sekolah.***Sekar

 

 

 


KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.3

 PROGRAM BERDAMPAK POSITIF BAGI MURID  MELALUI PENGELOLAAN ASET oleh: Sekar Gumilang A.        Refleksi      Pembelajaran pada modul 3 berka...