MENUMBUHKAN LINGKUNGAN POSITIF MELALUI
PENERAPAN DISIPLIN POSITIF DI SEKOLAH
Oleh Sekar Gumilang
Degradasi moral kini menjadi momok yang sangat menakutkan. Pasca pandemi merupakan PR terbesar bagi kaum guru, dimana para pahlawan tanpa tanda jasa ini harus mulai menggeliat membangunkan siswa-siswi dari tidur lelapnya sebut saja mereka “ Si kaum rebahan”.
Menelisik fenomena di atas, selayaknya guru harus mampu membangun kembali karakter positif yang pada dasarnya telah dimiliki oleh peserta didik, dan tentunya hal tersbeut tidak mudah. Membangun dan menumbuhkan Kembali karaktaer positif akan mendasar dari lingkungan yang postif. Lantas bagaimana menumbuhkan lingkungan positif di sekolah sebagai salah satu upaya menguatkan Kembali karakter positf siswa?
Salah satu teori yang disodorkan oleh Dr. William Glasser dalam teori kontrolnya, di mana di dalamnya mencuit tentang disiplin positif berkaitan dengan sebuah kontrol, baik yang berasal dari internal ataupun eksternal sebagai motivasi diri dalam suatu tindakan. Ternyata, terdapat beberapa miskonsep terkait dengan control diri, yang selanjutnya bahkan menjadi satu ilusi, di antaranya Ilusi guru mengontrol murid; Ilusi bahwa semua penguatan positif efektif dan bermanfaat; Ilusi bahwa kritik dan membuat orang merasa bersalah dapat menguatkan karakter; dan Ilusi bahwa orang dewasa memiliki hak untuk memaksa. Ilusi-ilusi tersebut memberikan miskonsepsi terhadap sebuah essensi controlling, artinya persepsi bahwa guru mengontrol murid, kritik membuat orang merasa berslah, orang dewasa memliki hak memaksa dan penguatan posotf itu sangat efektif, merupakan satu ilusi kebenaran.
Beranjak dari pemikiran glasser itulah di saat teori kontrol itu merujuk pada tujuan yang ingin dicapai oleh setiap individu, dalam bentuk sebuah motivasi internal. Di saat muncul dalam dirinya sebuah motivasi terhadap capaian sesuatu maka akan terbentuk sebuah nilai-nilai kebajikan yang diyakininya hal ini dikuatkan dengan pemikiran Dr. Diane Gossen mengaitkan nilai-nilai kebajikan yang diyakini seseorang maka motivasi intrinsiknya akan terbangun, sehingga menggerakkan motivasi dari dalam untuk dapat mencapai tujuan mulia yang diinginkan.
Merujuk pada suatu kekuatan nilai kebajikan yang dimiliki siswa, maka hal ini akan berdampak pada tumbuh dan terciptanya lingkungan posotf, baik di sekolah maupun di lingkungan keluarga. Di saat nilai-nilai kebajikan ini tertanam dalam diri individu, maka akan tercipta suatu karakter yang positif pula.
Sebagai salah satu upaya kita sebagai pendidiksebagai garda depan dalam proses pendidikan di sekolah, selayaknya kita dapat mencimptakan dan menumbuhkan lingkungan positif di sekolah, melalui penerapan disiplin positif yang tetap berakar pada nilai kebajikan. Mulai dari pembuatan keyakinan kelas/sekolah yang telah disepakati bersama, selanjutnya dengan pendalaman keyakinan kelas melalui identifikasi tabel T dan Y yang berjutng pada tabel TG-BTG-TM-BTM.
Proses dalam penyusuna keyakinan kelas, selayaknya mendasar pada nilai-nilai kebajikan yang telah disebutkan sebelumnya, akan tetapi terlepas dari nilai kebajikan tersebut, keyakinan kelas merupakan hasil tinjauan dari kesepakatan setiap siswa dalam menciptakan sebuah ruang kelas dan interaksi antar siswa yang kondusif. Disaat ruang kelas dan kondisi siswa yang kondusif, maka akan lebih mudah bagi siswa dalam melaksanakan pembelajaran, yang tentunya dalam hal ini guru tetap memiliki identifikasi terkait kebutuhan-kebutuhan dasar manusia, yang harus senantiasa terpenuhi.
Sebagai salah satu upaya mennciptakan budaya positif, maka diperlukan sosialisasi dan diseminasi dengan warga sekolah. Seperti halnya pada kegiatan aksi nyata, CGP melakukan diseminasi dnegan harapan akan memberikan progres yang membawa pada satu paradigma perubahan terkait budaya positif dan tergerak untuk mengimplementasikan di lingkungan sekolah.
Dalam proses diseminasi, guru diajak untuk mempraktikan langsung pada penyusunan keyakinan sekolah, yang mana sebelumnya diberikan gambran penyusunan keyakinan kelas mellaui tampilan video yang telah dibuat oleg CGP. Setelah eserta memahami alur penyususn keyakinan kelas, selanjutnya guru diberikan pendampingan dalam membuat keyakinan sekolah.***Sekar
.jpeg)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar