Kamis, 23 Mei 2024

KEYAKINAN KELAS (MODUL 1.4)

Oleh : Sekar Gumilang

Sebagai seorang guru dimana memiliki 5 peran kotrol sebagai penghukum, pembuat rasa bersalah, pemantau, teman dan manager selayaknya penting dalam menganalisis pentingnya memiliki keyakinan sekolah/kelas sebagai fondasi dan arah tujuan sebuah sekolah/kelas, yang akan menjadi landasan dalam memecahkan konflik atau permasalahan di dalam sebuah sekolah/kelas, dapat memahami serta  menjelaskan proses pembentukan dari peraturan-peraturan beralih ke keyakinan kelas juga  dapat berpikir kritis, kreatif, reflektif, dan terbuka dalam menggali nilai-nilai yang dituju pada peraturan yang ada di sekolah.

Berbicara keyakinan kelas  dapat berawal  dari sebuah permasalahan mengapa kita harus memiliki peraturan untuk menciptakan sebuah pembelajaran yang kondusif, di antaranya, siswa hadir tepat wwaktu, tidak menggunakan hP saat pembelajaran, tidak berbicara saat guru sedang memberikan materi pelajaran, dan sebagainya. Hal tersebut  tentunya menjadi satu dasar bagi seorang guru dalam membuat sebuah keyakinan kelas yang telah disepakati sebelumnya.

Mendasar dari nilai-nilai kebajikan yang merupakan sifat positif manusia sebagai fondasi kita dalam berprilaku, menjadi tujuan mulia yang ingin dicapai oleh setuap individu. Dari nilai kebajikan ini akan meningkatkan motivasi intrinsic yang selanjutnnya akan menggerakan motivasi diri. Cebagai contoh nilai kebajikan dari 6 institusi/organisasi yaitu beriman dan bertakwa; mandiri; bernalar kritis; berkebinekaanglobal; bergotong royong dan kreatif.

Nilai-nilai Kebajikan  menekankan pada keyakinan seseorang akan lebih memotivasi seseorang dari dalam. Seseorang akan lebih tergerak dan bersemangat untuk menjalankan keyakinannya, daripada hanya sekedar mengikuti serangkaian peraturan tertulis tanpa makna.

Beberapa tahapan dalam membuat keyakinan kelas sebagai berikut:

  • Keyakinan kelas bersifat lebih ‘abstrak’ daripada peraturan, yang lebih rinci dan konkrit.
  • Keyakinan kelas berupa pernyataan-pernyataan universal.
  • Pernyataan keyakinan kelas senantiasa dibuat dalam bentuk positif.
  • Keyakinan kelas hendaknya tidak terlalu banyak, sehingga mudah diingat dan dipahami oleh semua warga kelas.
  • Keyakinan kelas sebaiknya sesuatu yang dapat diterapkan di lingkungan tersebut. 
  • Semua warga kelas hendaknya ikut berkontribusi dalam pembuatan keyakinan kelas lewat kegiatan curah pendapat.
  • Bersedia meninjau kembali keyakinan kelas dari waktu ke waktu.

Berbagi aksi nyata yang telah saya lakukan melalui Langkah-langkah diatas. Saya menerapkan penyusunan keyakinan kelas di kelas 10 jurusan pariwisata pada program keahlian Usaha Layanan Pariwisata. Keyakinan kelas selain upaya untuk mengkondusifkan dalam pembelajaran, dalan hal ini saya ingin menerpakan pembentukan budaya sekolah yang diintgrasikan dengan budaya industry, khususnya dalam hal hospitality dan grooming.

Berikut hasil yang dikumpulkan melalui diskusi dan kesepakatan kelas 10 ULP 1 setelah diyakinkan dengan nilai-nilai kebijakan yang harus dimiliki individu, dan disesuaikan dengan budaya sekolah dan industry, dengan harapan akan terbentuk budaya positif siswa.

Tabel

Tampak seperti dan tidak tampak seperti

 

BERSIKAP  POSITIF

Tidak Tampak Seperti

Tampak Seperti

Datang terlambat

Datang tepat waktu

Tak acuh terhadap guru dan teman

Menyapa guru dan teman

Memakai seragam tidak sesuai 

Memakai seragam sesuai jadwal

Buku pelajaran tidak sesuai

Membawa buku pelajaran sesuai jadwal

Menggunakan make up berlebih

Menggunakan make up natural

 

PERCAYA DAN MENGHORMATI ORANG LAIN

Tidak Tampak Seperti

 Tampak Seperti

Tidak mendengarkan guru

Mendengarkan guru

Tidak menghormati guru dan teman

Menghormati guru dan teman

Tidak mengembalikan barang teman yang telah dipinjam

 Mengembalikan barang teman yang telah dipinjam

Memilih pilih teman

 Berteman/bermain dengan siapa saja

Berbicara kasar dan tidak sopan

 Berbicara dengan sopan

sumber : LMS CGP Modul 1.4

 


                                                                                               

 



  

Selasa, 02 April 2024

KESIMPULAN DAN REFLEKSI PEMIKIRAN KI HADJAR DEWANTARA

 

KESIMPULAN DAN REFLEKSI PEMIKIRAN KI HADJAR DEWANTARA

Kita sebagai guru dan pembelajar, selayaknya memahami akan konsep kebermaknaan mengajar dan mendidik. Kedua konsep yang secara substansi memiliki satu kesatuan pemahaman bagaimana untuk memanusia manusia menjadi manusia yang utuh menjadi  sosok yang kuat, tangguh, bertanggungjawab  serta mampu berdiri dengan konsepsi kebenaran. Kita sebagai guru yang memiliki tugas mulia dalam membangun dan menguatakan  pribadi peserta didik yang bertanggungjawab atas dirinya, keluarga dan negaranya, senantiasa memahami konsepsi pendidikan  , sebagaimana yang tertuang dalam filosofi pendidikan nasional yang  digagas Kihajar Dewantara, dimana pada hakikatnya bagaimana konteks penerapan pendidikan saat ini.

Sebagaimana yang digagas dalam filosofi Pendidikan KHD yang membedakan antara pengajaran dan Pendidikan. Dimana Pengajaran mengacu pada bagaimana guru memberikan atau mentransfer ilmu yang berfaedah kepada peserta didik, sementara Pendidikan lebih mengacu bagaimana cara guru dalam menuntun peserta didik secara kodrati yang dimiliki anak sehingga mereka menjadi manusia seutuhnya dalam menjalani kehidupan sebagai pribadi dan anggota masyarakat.

Sangat sepakat dengan filosofi Pendidikan tersebut, dimana anak tidak hanya perlu dan membutuh transfer ilmu , akan tetapi mereka membutuhkan tuntunan yang akan mengarahkan mereka untuk menggali dan mengembangan secara kodrati atas kemampuan yang mereka miliki melalui pola pembelajaran yang sesuai dan perpusat pada siswa. Dengan adanya kebebasan dalam pembelajaran sesuai dengan caranya, tidak lantas guru membiarkan begitu saja, akan tetapi tetap melalui proses penuntunan dan pembimbingan yang tepat dan terarah.

Pola pembelajaran masa kini, tentu akan berbeda dengan pembelajaran di masa lampau, dengan keterbukaan akses informasi dan teknologi yang kini semakin luas, mengharuskan guru mengikuti pola Pendidikan dan pengajaran yang  disesuaikan dengan perubahan tersebut. Sumber belajar yang dapat diperoleh melalui ragam media, memberikan kesempatan kepada anak untuk lebih memahami secara luas melalui eksplorasi dan mengeksplanasi materinya.

Pola konvensional  dalam system pembelajaran --- berpusat pada guru-- masih digunakan pada daerah-daerah tertentu, hal ini berindikasi bahwa pola tersebut secara optimal masih mampu memberikan satu formulasi  terbetuknya satu konsepsi materi dari  substansi pengetahuan. Keadaan demikian bisa jadi terbentuk karena daya intake siswa yang belum siap secara aspek kognitif mencerna atau  bahkan sebaliknya guru lebih mudah  menyampaikan  essensi  materi melalui  paradigma lama.

Melalui proses perubahan paradigma pembelajaran berpihak pada siswa menjadi harapan besar untuk membentuk pola kritis siswa dalam menghadapi permasalah baik secara konsepsi atau aktualisasi pengetahuan yang akan mereka gunakan dalam menyikapi jaman untuk hdup lebih mandiri di masyarakat.

Makna menuntun dalam konteks pendidikan tidak lain menggiring siswa pada kebermaknaan hidup. ketika awal anak belum memaknai dirinya sendiri seiring proses penuntunan melalui pendidikan, anak akan menyadari atas makna dirinya untuk orang-orang . sekitarnya. (2) relevansi penuntunan dalam konteks sosial budaya, seperti yang telah disampaikan bahwa , di saat anak-anak menyadari kebermaknaan dirinya, maka ia akan mampu membuka interaksi dengan baik dan positif guna memberikan aura .  positif bagi lingkungan sekitar. (3) adapun pendidikan perlu mementingan dan mempertimbangkan kodrat alami anak, maka di sanalah akan ada kemudahan bagi pendidik dan pengajar dalam membentuk dan memperlakukan  anak menadi manusia seutuhnya.

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.3

 PROGRAM BERDAMPAK POSITIF BAGI MURID  MELALUI PENGELOLAAN ASET oleh: Sekar Gumilang A.        Refleksi      Pembelajaran pada modul 3 berka...