KEYAKINAN KELAS (MODUL 1.4)
Oleh : Sekar Gumilang
Sebagai seorang guru dimana memiliki 5 peran kotrol
sebagai penghukum, pembuat rasa bersalah, pemantau, teman dan manager
selayaknya penting dalam menganalisis pentingnya memiliki keyakinan
sekolah/kelas sebagai fondasi dan arah tujuan sebuah sekolah/kelas, yang akan
menjadi landasan dalam memecahkan konflik atau permasalahan di dalam sebuah
sekolah/kelas, dapat memahami serta menjelaskan proses pembentukan dari
peraturan-peraturan beralih ke keyakinan kelas juga dapat berpikir kritis, kreatif, reflektif, dan
terbuka dalam menggali nilai-nilai yang dituju pada peraturan yang ada di
sekolah.
Berbicara keyakinan kelas dapat berawal dari sebuah permasalahan mengapa kita harus
memiliki peraturan untuk menciptakan sebuah pembelajaran yang kondusif, di
antaranya, siswa hadir tepat wwaktu, tidak menggunakan hP saat pembelajaran,
tidak berbicara saat guru sedang memberikan materi pelajaran, dan sebagainya. Hal
tersebut tentunya menjadi satu dasar
bagi seorang guru dalam membuat sebuah keyakinan kelas yang telah disepakati
sebelumnya.
Mendasar dari nilai-nilai kebajikan yang merupakan
sifat positif manusia sebagai fondasi kita dalam berprilaku, menjadi tujuan
mulia yang ingin dicapai oleh setuap individu. Dari nilai kebajikan ini akan
meningkatkan motivasi intrinsic yang selanjutnnya akan menggerakan motivasi
diri. Cebagai contoh nilai kebajikan dari 6 institusi/organisasi yaitu beriman
dan bertakwa; mandiri; bernalar kritis; berkebinekaanglobal; bergotong royong
dan kreatif.
Nilai-nilai
Kebajikan menekankan pada keyakinan
seseorang akan lebih memotivasi seseorang dari dalam. Seseorang akan lebih
tergerak dan bersemangat untuk menjalankan keyakinannya, daripada hanya sekedar
mengikuti serangkaian peraturan tertulis tanpa makna.
Beberapa tahapan dalam
membuat keyakinan kelas sebagai berikut:
- Keyakinan kelas bersifat lebih ‘abstrak’
daripada peraturan, yang lebih rinci dan konkrit.
- Keyakinan
kelas berupa pernyataan-pernyataan universal.
- Pernyataan
keyakinan kelas senantiasa dibuat dalam bentuk positif.
- Keyakinan
kelas hendaknya tidak terlalu banyak, sehingga mudah diingat dan dipahami
oleh semua warga kelas.
- Keyakinan
kelas sebaiknya sesuatu yang dapat diterapkan di lingkungan
tersebut.
- Semua
warga kelas hendaknya ikut berkontribusi dalam pembuatan keyakinan kelas
lewat kegiatan curah pendapat.
- Bersedia
meninjau kembali keyakinan kelas dari waktu ke waktu.
Berbagi aksi nyata yang telah saya lakukan melalui
Langkah-langkah diatas. Saya menerapkan penyusunan keyakinan kelas di kelas 10
jurusan pariwisata pada program keahlian Usaha Layanan Pariwisata. Keyakinan
kelas selain upaya untuk mengkondusifkan dalam pembelajaran, dalan hal ini saya
ingin menerpakan pembentukan budaya sekolah yang diintgrasikan dengan budaya
industry, khususnya dalam hal hospitality dan grooming.
Berikut hasil yang dikumpulkan melalui diskusi dan
kesepakatan kelas 10 ULP 1 setelah diyakinkan dengan nilai-nilai kebijakan yang
harus dimiliki individu, dan disesuaikan dengan budaya sekolah dan industry,
dengan harapan akan terbentuk budaya positif siswa.
Tabel
Tampak seperti dan tidak tampak seperti
|
BERSIKAP POSITIF |
|
|
Tidak Tampak Seperti |
Tampak Seperti |
|
Datang terlambat |
Datang tepat waktu |
|
Tak acuh terhadap guru dan teman |
Menyapa guru dan teman |
|
Memakai seragam tidak sesuai |
Memakai seragam sesuai jadwal |
|
Buku pelajaran tidak sesuai |
Membawa buku pelajaran sesuai jadwal |
|
Menggunakan make up berlebih |
Menggunakan make up natural |
|
PERCAYA DAN MENGHORMATI ORANG LAIN |
|
|
Tidak Tampak Seperti |
Tampak
Seperti |
|
Tidak mendengarkan guru |
Mendengarkan guru |
|
Tidak menghormati guru dan teman |
Menghormati guru dan teman |
|
Tidak mengembalikan barang teman yang telah
dipinjam |
Mengembalikan barang teman yang telah
dipinjam |
|
Memilih pilih teman |
Berteman/bermain dengan siapa saja |
|
Berbicara kasar dan tidak sopan |
Berbicara
dengan sopan |
sumber : LMS CGP Modul 1.4
“
Tidak ada komentar:
Posting Komentar