Minggu, 26 Mei 2024

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 1.4 #CGP ANGKATAN 10

 


PENERAPAN BUDAYA POSITIF

Oleh: Sekar Gumilang

Koneksi antar materi pada modul 1.4 berkaitan dengan budaya positif. Guru diibaratkan sebagai seorang petani yang memiliki peranan penting untuk menjadikannya tanaman subur. Sekolah diibaratkan sebagai tanah tempat bercocok tanam, sehingga dalam hal ini guru harus mengusahakan sekolah menjadi lingkungan yang menyenangkan , menjaga serta melindungi murid dari hal-hal yang idak baik.

Dalam Eksplorasi konsep terkait disiplin positi dan nilai-nilai kebajikan universal. Dr. William Glasser dalam Control Theory yang kemudian hari berkembang dan dinamakan Choice Theory, meluruskan beberapa miskonsepsi tentang makna ‘kontrol’. Teori Kontrol  menyatakan bahwa semua perilaku memiliki tujuan, bahkan terhadap  perilaku yang tidak disukai.

Hal lainnya terkait dengan budaya positif adalah menguatan nilai-nilai kebajikan yang harus senantiasa diterapkan oleh para guru baik dalam bentuk keyakinan kelas atau kesepakatan kelas.  Nilai kebajikan adalah sifat positif manusia yang merupakan fondasi kita berprilaku, sekaligus tujuan mulia yang ingin dicapai setiap individu. Melalui nilai kebiajikan maka akan meningkatnya motivasi intrinsic untuk mengerakan motivasi diri. Nilai kebajikan  berdasarkan versi 6 institusi/organisasi adalah beriman dan bertakwa; mandiri; bernalar kritis; berkebinekaan global;bergotong royong dan kreatif.

Nilai-nilai kebajikan di atas, perlu diterapkan melalui keyakinan kelas yang telah disepakati antara guru dan siswa. Disaat ada keyakinan kelas yang dilanggar, perlu adanya tindakan untuk mengubah indetitas gagal bergeser ke indentitas sukses.

Sebagai guru, kita perlu mengidentifikasi atas kegagalan yang dilakukan siswa, artinya dalam kegagalan tersebut ada beberapa kebutuhan dasar yang belum terpenuhi. Seperti yang dinyatakan Dr. William dalam teori kontrolnya bahwa ada suatu tujuan dibalih sebuah prolaku manusia. Yang selanjutnya Dr. William Glasser menjabarkan 5 kebutuhan dasar manusia yaitu : bertahan hidup (survival); penguasaan (power); merasa diterima (love & belonging); kesenangan (fun) dan kebebasan (freedom).

Kebutuhan akan bertahan hidup (survival) meliputi Kesehatan, rumah, makan, biologis dan keamanan; kebutuhan merasa diterima , dimana adanya keinginan untuk tetap tehubung dengan orang lain (teman, keluarga, guru, dan lai-lain), ia ingin menjadi bagian yang berharga; kebutuhan kebebasan di antaranya kebutuhan membuat pilihan, dimana murid harus diberikan kesempatan membuat pilihan dan bertanggung jawab atas pilihannya, dalam hal ini kebebasan bukan berarti membiarakan mereka berbuat apa saja; kesenangan  di antaranya menikmati apa yang mereka lakukan; dan penguasaan biasanya berawal dari murid measa kompeten, menjadi terampil diakui pencapaiannya sehingga ia ingin didengarkan dan berdampak.

Dalam upaya perwujudan budaya positif, selayaknya seorang guru harus mampu mengidentifikasi kegagalan murid yang tentunya ia lakukan karean ada tujuan yang ingin dibuktikan atau bahkan ada kebutuhan yang ingin dipenuhi oleh murid bersangkutan. Oleh karenanya, maka diperlukan proses segitiga restitusi, dimana

Langka-langkah restitusi di atas,  langkah pertama guru harus menstabilkan identitas, dengan peran menggeser identitas  murid dari identitas gagal ke identitas sukses.langkah kedua, guru guru men=mvalidasi tindakan yang salah, dimana dalam hal ini guru akan bergeser dari pemikiran stu=imulus respon menjadi pro aktif. Proses ini diakhiri dengan guru menanyakan keyakinan . saat prilaku telah divalisai dan identitas sukses telah stabil maka murid telah siap mengkaitkan keyakinannya  dengan tindakannya yang salah. Posisi control guru dalam hal ini memiliki 5 posisi yaitu penghumu, pembuat rasa bersalah; teman; pemantau dan manager.

Dari modul Budaya Positiff ini, banyak sekali hal-hal baru bagi saya, terutama pada proses restitusi dan posisi control guru. Secara praktek, saya sering melakukan hal ini dalam upaya menyelesaikan atau memahami kondisi murid, saat terjadi pelanggara baik terkait dengan tata tertib sekolah maupun budaya sekolah. Dari modul ini, ternyata apa yang saya lakukan merupakan bagian f=dari proses restitusi, meskipun secara tahapan yang dilakukan tidak lengkap sesuai dengan proses segitga restitusi. Selain itu, saya baru memahami, bahwa seorang guru memiliki beberapa posisi control dalam melakukan atau menguatkan posisi kebersalahan murid kearah budaya positif.



Selain itu, proses membuat keyakinan kelas, menjadi hal yang sangat menarik bagi saya, karena melalui proses pembuatan keyakinan kelas yang didasari  atas kesepakan murid dan guru, dapat membantu mengubah identitas gagal ke identitas sukses sebagaimana yang disebutkan dalam proses segitiga restitusi.

Perasaan yang saya rasakan saat ini adalah rasa optimistis dalam memahami dan menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan budaya positif, yang tentunya. Selain itu rasa bersalah dimana kadang-kadang saya menempatkan posisi control saya sebagai pembuat rasa bersalah, yang akhirnya dalam hal ini murid terasa jauh. Akan tetapi setelah saya memahami posisi control ini, hal yang ingin saya selalu terapkan adalah  ada saatnya sebagai posisi teman dan saatnya menjadi posisi manager. Sehingga sinergitas antara guru dan murid akan semakin terkendali.  Berikut adalah kesimpulan koneksi antara materi pada modul 1.4. 

Bagan Koneksi Antar Materi
modul 1.4

Penanaman budaya positif  yang pernah saya lakukan adalah  di saat saya berposisi sebagai teman. Proses ini dilakukan saat saya menghadapi prilaku siswa yang kurang memperhatikan dan respek terhadap beberapa guru. Hal ini disebabkan ia membutuhkan perhatian dan rasa ingin diterima. Pada saat itu saya memberikan motivasi dalam bentuk memberikan kepercayaan melalui menggeser identitas gagal kea rah identitas sukses, pada taham menstabilkan identitas. Dan setelah dilakukan proses diskusi, ada hal yang menjadikan diaberprilaku demikian, dan akhirnya menyadari, bahwa apa yang ia lakukan tidak tepat, dan upaya yang ingin ia lakukan adalan meyakinkan guru dan orang di sekitarnya bahwa ia adalah sosok pribadi yang bisa diandalkan.

Menurut saya, konsep ini sangat penting untuk diketahui dan dipahami oleh setiap guru. Akan tetapi paham saya tidak cukup, perlu diimplementasikan dan internalisasi diri. Hal yang dirasakan setelah mempelajari modul ini, selain optimis untuk menciptakan atmosfer positif di masa mendatang adalah berkembangnya pola pikir dalam mengatasi permasalah siswa, terutama dalam mengidentifikasi kebutuhan dasar siswa, yang dapat kita penuhi baik melalui proses restitusi jika ada hal yang dilakukan siswa keluar dari kesepakatan kelas yang  akhirnya menjadi keyakinan kelas. Hal ersebut diperlukan kpnsistensi dan kontinuitas pendampingan dam pembimbingan siswa dalam menciptakan budaya positid siswa, yang kelak akan menjadi karakter positidsebagai perwujudan nilai-nilai kebajikan.  (sekar_gumilang)










Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.3

 PROGRAM BERDAMPAK POSITIF BAGI MURID  MELALUI PENGELOLAAN ASET oleh: Sekar Gumilang A.        Refleksi      Pembelajaran pada modul 3 berka...