Selasa, 13 Agustus 2024

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1

KORELASI PARADIGMA, PRINSIP DAN LANGKAH PENGAMBILAN KEPUTUSAN

SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

Oleh: Sekar Gumilang

  • Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?

Pemimpin pembelajaran sebagai pengambil keputusan, jika dikaitkan dengan filosofiKHD dalam konsep Pratap  Triloka memiliki hubungan yang sangat erat. Artinya Ing Ngarso Sungtulada, Ing madya mangun karso, tut wuri handayani, menjadi dasar bahwa dalam mengambil keputusan dalam mengambil kebijakan sang pemimpin memberikan teladan, tidak mementingkan kepentingan pribadi sehingga dalam memutuskan sesuatu mendasar pada prinsip dan paradigma pengambilan putusan. Kaitannya dengan Ing madya mangun karso, di saat keputusan tersebut di buat, maka dilakukan bersama-sama dengan stakeholder lainnya sehingga hasil keputusan dirasakan dan dikerjakan Bersama. Tut wuri hadayani, artinya pemimpin pembelajaran di belakang mendukung hasil keputusan yang telah diambil, sehingga segala hasil keputusan yang telah diabil harus didukung baik secara langsung maupun tidak langsung.

  • Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, sangat berpengaruh terhadap keputusan yang kita ambil, dan hal ini tentunya akan berkaitan dengan karsa, dimana karsa merupakan kekuatan yang tidak terpisahkan dari perilaku manusia. Karsa ini lang yang akan berhubungan dengan nilai atau prinsi-prinsip yang mendasri pemikkiran manusia

  • Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya.

Di saat proses coaching yang dilakukan, tetantunya hal ini menjadi satu alasan coachee harus mengambil sebuah keputusan atau hal apa yang akan mereka lakukan. Sebagai fasilitator atau pendaping harus senantiasa membuka aatau mengarahkan coachee dalam menemukan ide-ide segar sebagai solusi dengan berbagai pertimbangan dampai baik dan buruk. Dan melalui analisis ini lah pengambilan keputusan harus dilakukan berdasarkan prinsi dan paradigma yang mengarahkan mereka pada suatu Langkah-langkan pengambilan keputusan.

  • Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?

Guru sebagai pembelajar sejati, selayaknya memberikan penguatan kepada siswa tertait dengan kompetensi sosial emosional yang akan berimbas pada keputusan yang  mereka ambil. Dengan memahami, menghayati dan mengelola emosi (kesadaran diri); menetapkan dan mencapai tujuan posistif (pengeoaan diri); mebangun mempertahakan hubungan  yang positf;  merasakan  dan mrnunjukan empati kepada orang lai (kesadaran sosial); dana membuat keputusan tyang bertanggujawab, maka akan menguatan dalam pengambilan keputusan. 

  • Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

Dalam menangani kasus berkaitan dengan masalah moral, pernah saya alami, hal ini menjadi sebuah dilemma etika, di saat seorang sisw amengambil barang berharga temannyan karena permasalah ekonomi yang ingin membantu orangtua, hal ini tentunya mejadi sulit, di sisi lain dia beritikad baik untu membantu oarnua yang membesarkan ke 5 anaknya seorang diri (tanpa suami) di sisi lain, keputusasaan menjebak dia ke arah penyimpangan dari etika dan nirma yaitu mengambil barang bukan haknya.

  • Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Pengambilan keputusan yang tepat akan membentuk atau menciptakan lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman,  hal ini berkaitan dengan bagaimana seorang pemimpin pembelajaran mempertimbangkan keputusan mendasar pada pemenuhan kebutuhan berskala prioritas, yang berfokus pada kepentingan Bersama, tanpa melihat aspek kepentingan pribadi.

  • Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Tantangan dalam mengambil keputusan diantaranya bagaiman memposisikan diri pada situasi yang sulit, di saat adanya hal yang berkaitan  dilema etika, sehingga seorang pemimpin pembelajaran harus mampu dan memaksimalkan Analisa terhadap substansi putusan yang diambil

  • Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?

Pengaruh pengambilan keputusan terhadap pengajaran yang memerdakakan murid, tentu mendasar pada proses  apa yang  dilakukan seorang pemimpin pembelajaran dalam mengakomodir kebutuhan belajar siswa. Salah satu contoh, bagaimana seorang pemimpin pembelajran memutuskan sebuah pendekatan pada aspek potensi, profil dan minat siswa dalam pembelajaran, sehingga konteks berdiferensiasi akan tercapai.

  • Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

sebagai pemimpin pembelajaran membuat sebuah keputusan yang memerdekakan dan berpihak pada murid, maka dapat dipastikan murid-muridnya akan belajar menjadi oang-orang yang merdeka, kreatif , inovatif serta mandiri dalam mengambil keputusan yang menentukan bagi masa depan mereka sendiri kelak. Dimasa depan mereka akan tumbuh menjadi individu-individu yang bijak, tangguh, dan penuh pertimbangan dalam membuat keputusan-keputusan penting bagi kehidupan dan pekerjaannya. Keputusan yang diambil oleh seorang guru akan menjadi ibarat pisau yang disatu sisi apabila digunakan dengan baik akan membawa kesuksesan dalam kehidupan murid di masa yang akan datang. Bagitu pula sebaliknya apabila kebutuhan tersebut tidak diambil dengan bijaksana, maka bisa jadi akan berdampak sangat buruk bagi masa depan murid-murid. Keputusan yang berpihak kepada murid haruslah melalui pertimbangan yang sangat akurat dimana dilakukan terlebih dahulu pemetaan terhadap minat belajar, profil belajar dan kesiapan belajar murid untuk kemudian dilakukan pembelajaran berdiferensiasi yaitu melakukan diferensiasi konten, diferensiasi proses dan diferensiasi produk.

  • Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Kesimpulan akhir yang dapat ditarik dari pembelajaran modul pengambilan keputusan  berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai seorang pemimpin keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya  adalah  Modul pengambilan keputusan  berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai seorang pemimpin adalah membantu kita memahami pentingnya integritas dan etika dalam proses pengambilan keputusan. Nilai-nilai seperti kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab yang ditekankan dalam modul-modul sebelumnya, terutama dalam filosofi Ki Hajar Dewantara, menjadi dasar penting dalam pengambilan keputusan yang etis dan bermoral. Visi pendidikan yang berorientasi pada iswa seperti pengambilan keputusan dan nilai-nilai guru penggerak menekankan pentingnya berfokus pada kepentingan siswa

  • Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

   Pemahaman tentang konsep-konsep yang telah saya pelajari antara lain; dilema etika dan dilema moral adalah dua konsep terkait dalam konteks pengambilan keputusan yang melibatkan pertimbangan nilai-nilai dan prinsip-prinsip moral tetapi keduanya memiliki perbedaan dalam lingkup dan aspek-aspek tertentu. Dilema moral adalah  cenderung lebih spesifik dan berfokus pada situasi atau tindakan tertentu yang melibatkan pertimbangan nilai-nilai moral. Sedangkan dilema etika adalah  memiliki cakupan yang lebih luas. Ini mencakup pertimbangan nilai-nilai, prinsip-prinsip, dan norma-norma moral yang lebih umum, dan seringkali melibatkan pertimbangan etika yang lebih abstrak atau konsep-konsep seperti keadilan, kebebasan, dan hak asasi manusia. Kemudian 4 paradigma pengambilan keputusan yaitu; 1) individu lawan kelompok (individual vs community). Paradigma ini lebih menekankan peran individu, sementara yang lain lebih menekankan peran kelompok dalam proses pengambilan keputusan; 2) rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy). Pengambilan keputusan yang rasional akan mempertimbangkan fakta dan data secara objektif untuk mencapai hasil yang adil dan berdasarkan prinsip-prinsip keadilan; 3) kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty). Dalam paradigma ini, penekanan utama adalah pada mencari kebenaran dan mengambil keputusan berdasarkan fakta dan data yang tersedia; 4) angka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term). Dalam paradigma ini, pengambilan keputusan cenderung didasarkan pada analisis objektif data dan informasi yang tersedia untuk mencapai hasil yang optimal. Tiga prinsip pengambilan keputusan yang berpedoman kepada pada Pratap Triloka Ki Hajar Dewantara  adalah Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing   Karso, Tut Wuri Handayani. Artinya, seorang guru harus mampu memberikan contoh baik atau teladan bagi peserta didik dan guru diharapkan mampu mengambil keputusan yang tepat  serta bijaksana dan berpihak kepada murid, sehingga murid dapat mengembangkan minat, bakat sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Sembilan langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Selanjutnya segala keputusan haruslah di ambil secara tepat dan bijaksana karena sebagai seorang pemimpin pembalajaran membutuhkan pengujian yang sejalan dengan prinsip pengambilan keputusan yang etis . Terdapat Sembilan langkah pengambilan pengujian keputusan  dalam dilemma etika yaitu (1) mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi tertentu, (2) menentukan siapa yang terlibat dalam situasi tersebut, (3) mengumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi tersebut, (4) melakukan pengujian benar atau salah, (5) melakukan pengujian paradigma benar dan benar, (6) melakukan prinsip resolusi, (7) investigasi Opsi Trilema, (8) membuat keputusan, dan (9) melihat kembali keputusan itu, lalu refleksikan.

  • Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

Sebelum mempelajari modul ini, saya belum pernah mengambil keputusan berdasarkan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan ke[utusan, pada di sisi lain saya pernah menghadapi satu situasi dan kondisi dilema etika. Sehingga dengan kondisi tersebut saya  cenderung menitik berapkan pada aturan yang berlaku, meskipun tidak jarang saya memutuskan berdaarkan kebijaikan melalui nilai kebajikan.

  • Bagaimana dampak mempelajari konsep  ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Pembelajaran ini sangat berdampak, dan meyakinkan saya bahwa dalam mengambil sebuah keputusan, kita harus mendasar pada paradigma, prinsip dan Langkah-kangkah pengambilan keputusan, sehingga hasil yang kita putuskan setiknya akan memberikan dampak yang positif dan memberukan kontribusi yang lebih untuk lingkungan sekitar.

  • Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?

Modul ini sangat penting dipahami oleh seorang pemimpin pembelajran, karena dengan mengetahui konsep ini, seorang pemimpin akan lebih bijak dalam meme=utuskan sesuatu hal.

 

 

 

 

 

Kamis, 25 Juli 2024

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.3

 PENGGALIAN DAN PENGEMBANGAN POTENSI GURU MELALUI COACHING SUPERVISI AKADEMIK

Oleh : Sekar Gumilang

1.1 Konsep Coaching Supervisi Akademik

    Guru sebagai pendidik dan pengajar, selayaknya memiliki empat kompetensi dasar diantaranya kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional. Kompetensi tersebut perlu digali dan ditingkatkan guna memberikan tuntutan terbaik untuk peserta didik, sebagai mana yang tertuang dalam filosofi KHD bahwa pendidik Pendidikan (opvoeding) memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggitingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. 

    Beranjak dari filosofi  di atas, setiap guru tentunya mengalami hambatan dan tangtangan dalam proses mengajar dan mendidik tersebut. hambarn dan tantangan ini selayaknya dijadikan fokus untuk setiap pendidik untuk menemukan solusi terbaik guna memperbaiki kualitas pendidikan. Salah satu cara untuk menemukan solusi dari kendala yang dihadapi adalah adanya proses kolaborasi antara teman sejawat melalui "coaching".

    Coaching merupakan proses kolaborasi yang berfokus pada solusi,  berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atad performa kerja,  pengalaman hidup. Pada dasarnya coaching dipicu ada hal yang ingin dicapai baik dalam penguatan potensi diri dalam praktek pengajaran, maupun inginnya solusi dan ide yang dikembangkan oleh coacheenya.  dalam prosesnya coaching tiidak harus dengan seorang pakar, akan tetapi harus ditutntut untu mampu berpikir kesa, curius. 

    Proses coaching membangun kemitraan yang setara dan coachee sendiri yang mengambil keputusan , dan coachee sendiri hanya menghantarkan melalui mendengar aktif, dan melontarkan pertanyaan , dan coacheelah yang membuat keputusan sendiri.

    Paradigma berpikir dan prinsip coaching, yakni mendasar pada maksud dan tujuan coaching itu sendiri yakni mengubah efektifitas pengambilan keputusan, paradigma berpikir (mental mode) dan persepsi serta membuasakan reflleksi, dengan tujuan menginkatkan dan membiasakan belajar mandiri; mengelola diri sendiri memantau diri sendiri l memodifikasi diri sendiri. 

    Adapun kompetensi inti coaching adalah : (1) kehadiran penuh; mendengarkan aktif; dan mengajukan pertanyaan berbobot.  dalam hal ini seorang coach  berfokus pada komunikasi coachee. Melalui teknik coaching diantarantaa merangkum pertanyaan coachee; memghindari kata mengapa; lepas dari judgmen, mengajukan pertanyaan yang berbondong-bondong.

1.2 Coaching dalam Refleksi

    Setelah mempelajari modul tentang coaching supervisi, penulis merasa hal-hal yang baru dan tercerahkan. Saat awal konsep coaching ini menemukan solusi yang berasal dari dua belah pihak melalui kepekatan atau hal-hal lain yang merujuk pada sesuatu yang solutif, tetapi ternyata hal demikian bukankan konsep coaching sebenarnya. situasi dan kondisi dalam mempelajari materi seharusnya senantiasa di pahami secara contunue, sehingga tidak akan ada mata rantai yang terputus nyang menyebabkan distructionthink.  keterlibatan penulis dalam proses pemahaman rangkaian coaching dilaksanakan melalui kolaborasi dengan rekan CGO lainnya, sehingga mampu menggali diri serta saling memberikan umpan balik terhadap rekan lainnya.  proses latihan yang dilakukan samai praktik nyata dilakukan berdasarkan alur yang terdapat pada alur RASA.

Aksi Nyata Coaching rekan sejawat 


Demonstrasi Kontekstual

1.3. Analisis proses
 
    Melalui praktek dalam demosntrasi kontekstual dan aksi nyata, penulis melihat satu analisis pembelajaran, bahwa dalam melakukan coaching, kadang-kadang asumsi pribadi akan muncul melalui rangkaian solusi yang ditawarkan oleh coache itu sendiri, pada pada prisnsipnya dalam proses coaching, seorang coach hanya berperan sebagai penghantar untuk menemukan solusi yang dimunculkan oleh coachee itu sendiri.
    Tantangan bagi seorang coach adalah, bagaimana strategi yang dimunculkan di saat menemukan coache yang tidak terbuka dalam menyampaikan ide, yaitu menggali dan menemukan pertanyaan yang berbobbot, segingga present sangat dibutuhkan untuk mengejar pertanyaan berdasarkan dari pernyataan atau cerita yang terungkap dari sang coachee.






Jumat, 05 Juli 2024

 

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.2

PEMBELARAN SOSIAL DAN EMOSIONAL

Oleh : Sekar Gumilang

Kesimpulannya atas perubahan pengetahuan keterampilan, sikap sebagai pemimpin perubahan, tidak lain bahwa guru selayaknya  memiliki kompetensi sosial dan emosional yang baik dan lebih efektif dan kecenderungan untuk lebih Tangguh dan merasa nyaman di kelas. Dengan demikian para murid dapat belajar dengan nyaman, dan guru pun dapat bekerja dnegan nyaman pula.

Kaitannya pembelajaran sosial dan emosional yang telah dipelajarai dengan modul-modul sebelumnya adalah adanya realtivitas pembelajaran yang berpusat pada musri yang mengacu pada filosofi Pendidikan KHD dengan menuntut kodrat alam dan zaman, sehingga mampu berkembang secara optimal yang tentunya didukung dengan budaya positif dan iklim yang kondusif baik di kelas maupun di lingkungan sekolah secara luas.

Melalui PSE yang merupakan satu upaya untuk menciptakan iklim positif untuk menyamanan dan kondusifitas siswa di kelas, memberikan motivasi yang kuat dalam proses pembelajaran, dimana muncul kesadaran diri, managemenen diri, keterampilan berelasi, kesadaran sosial dan pengambilan kepuusan yang bertanggungjawab, yang secara utuh telah dimunculkan melalui integrasi dalam pembelajaran maupun pengajaran eksplisit.

Sebelum memperlajari modul ini, saya meyakini bahwa pembelajaran yang telah saya lakukan sudah mampu mengakomodir seluruh kebutuhan siswa baik secara mental maupun konseptual, akan tetapi setelah mempelajari PSE ternyata banyak hal yang harus saya gali, dimana saya harus mampu mengeksplorasi sebuah pembelajaran yang dapat menggali dan membangkitkan 5 kompetensi sosial emosional yang terdiri atas kesadaran diri; managemen diri, keterampilan berelasi; kesadarab sosial dan mengambil keputusan yang bertanggungjawab.

Berkaitan dengan kebutuhan belajar dan lingkungan yang aman dan nyaman untuk memfassilitasi keseluruhan individu di sekolah agar dapat meningkatkan kommpetensi akademik maupun kesejahteraan psikologis, 3 hal yang mendasar dan penting saya pelajari adalah  (1)  upaya peningkatan perilaku positif bagi siswa melalui keteladanan guru ; (2) menciptakan lingkungan belajar yang suportif  contohnya melalui  pengurangan prilaku negative (pendekatan personal dan intrapersonal) (3) peningkatan diri sendiri atas respek dan toleras terhadapa orang lain dan lingkungan sekitar, melalui pengurangan tingkat sress pada siswa serta peningkatan prforma akademik siswa.

Perubahan yang saya terapkan di sekolah :

1.                   Bagi siswa: penerapan minfulness sebagai dasar penguatan 5 KSE , salahsatunya dengan melalui  memberikan pemahaman prinsip kesadaran penuh, praktik kesadaran penuh; dan implementasi pembelajaran sosial emosional di kelas dan di sekolah, baik memalui integrasi pembelajaran maupun pengajaran eksplisit.

2.                   Bagi guru: memodelkan atau menjadi teladan penerapan 5 KSE; belajar melalui pembiasaan merefleksi kompetensi; berkolaborasi; mengembangkan pola pikir bertumbuh serta menbuat komunita belajar  professional.

Senin, 24 Juni 2024

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.1

PENDEKATAN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI

 DALAM PERSPEKTIF GURU SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

Oleh :Sekar Gumilang  


        Pembelajaran melalui pendekatan diferensiasi , merupakan salaha satu langkah yang selayaknya dipersiapkan guru untuk memenuhikebutuhan belajar siswa. Pembelajaran berdiferensiasiitu sendiri menjadi satu konsep pendekatan pembelajaran siswa, dimana guru harus mampu mengakomodir bagaimana para siswa dapat belajar memahami teks dan kontekstual dalam mata pelajaran yang diampu.

        Melalui identifikasi kesiapan belajar siswa, guru dapat menentukan pendekatan berdiferensiasiapa yang lebih tepat, apakah diferensiasi proses, konten atau produk. Hal ini dapat memberikan kesempatan pembelajaran siswa melalui minat, gaya belajar, atau bahkan hal yang akan membuat tertarik siswa, sehingga, bahkan mampu menggali dan menguatkan kompetensi siswa di bidang tertentu.

        Pembelajaran Berdiferensiasi sebagai  usaha guru untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu murid.  Berdasarkan pernyataan  Tomlinson (1999:14)  bahwa dalam kelas yang mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi, seorang guru melakukan upaya yang konsisten untuk merespon kebutuhan belajar murid.

         Di sisi lain, pembelajaran berdiferensiasi merupakan serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang disusun guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Keputusankeputusan yang dibuat tersebut adalah yang terkait dengan: tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas; bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar murid; bagaimana guru menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi;  bagaimana guru memastikan setiap murid di kelasnya tahu bahwa akan selaluada dukungan untuk mereka di sepanjang proses belajar mereka; manajemen kelas yang efektif. Bagaimana guru menciptakan prosedur, rutinitas, metode yang memungkinkan adanya fleksibilitas, namun juga struktur yang jelas, sehingga walaupun murid melakukan kegiatan yang mungkin berbeda-beda, namun kelas tetap dapat berjalan secara efektif; penilaian berkelanjutan. Bagaimana guru menggunakan informasi yang didapatkan dari proses penilaian formatif yang telah dilakukan, untuk dapat menentukan murid mana yang masih ketinggalan, atau sebaliknya, murid mana yang sudah lebih dulu mencapai tujuan belajar yang ditetapkan, dan kemudian menyesuaikan rencana dan proses pembelajaran; pembelajaran berdiferensiasi haruslah berakar pada pemenuhan kebutuhan belajar murid dan bagaimana guru merespon kebutuhan belajar tersebut. Dengan demikian, Kita perlu memperhatikan kebutuhan belajar muridmuridnya dengan lebih komprehensif, agar dapat merespon dengan lebih tepat terhadap kebutuhan belajar murid-muridnya tersebut.

         Sebagai salah satu contoh saat melalukan pendekatan pembelajaran berdiferensiasi produk. Dalam pembelajaran seni budaya,. dalam konteks pembelajaran gamelan degung,  setiap siswa mempiliki keunikan dalam daya serap musikalitas yang bervariatif. Ada yang mampu menabuh dengan pola tabuhan sederhana, ada yang mampu mempraktekan pola itabuhan yang komplek, atau bahkan sama sekali hanya mampu menabuh denganpola tabuhan  paling sederhana.

           Untuk membuat siswa-siswi  merasa lebih percaya diri, saya mengelompokan siswa berdasarkan daya intake tadi. Melalui identifikasi kesiapan siswa, minat siswa dan profil belajar murid yang disesuaikan dengan permainan alat musik dengan kompleksitas tertentu, mereka akan tetap kerakomodir sesuai dnegan kemampuan mereka masing-masing

 

                    mudah                                                 sedang

      

       

                                    Sulit                          sangat sulit

           Melalui analisis kesiapan siswa melalui assesmen diagostik, serta proses identifikasi muslikalitas siswa sebelumnya  melalui tes pola ritmis sederhama menuhu ritmis, akan terlihat daya kemampuan siswa dalam  konteks musiikalitas.   

        Pembelajara berdiferensiasi prses di atas, guru akan lebih mudah memberikan penilaian sesuai dengan tingkat  pola tabuhan  sederhama  menujut tabuhan yang kompleks, atau  sulit. Sebagai guru penggerak yang memiliki peran, salahsatunya berperan dalam pemimpin pembelajaran, ia harus mampu menjadi leader dalam menciptakan pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan. *¬sekar gumilang¬*

Senin, 10 Juni 2024

DISIPLIN POSITIF

 

MENUMBUHKAN LINGKUNGAN POSITIF MELALUI

PENERAPAN DISIPLIN POSITIF  DI SEKOLAH

Oleh Sekar Gumilang

   Degradasi moral kini menjadi momok yang sangat menakutkan. Pasca pandemi merupakan PR terbesar bagi kaum guru, dimana para pahlawan tanpa tanda jasa ini harus mulai menggeliat membangunkan siswa-siswi dari tidur lelapnya sebut saja mereka “ Si kaum rebahan”.

Menelisik fenomena di atas, selayaknya guru harus mampu membangun kembali karakter positif yang pada dasarnya telah dimiliki oleh peserta didik, dan tentunya hal tersbeut tidak mudah. Membangun dan menumbuhkan Kembali karaktaer positif akan mendasar dari lingkungan yang postif. Lantas bagaimana menumbuhkan lingkungan positif di sekolah sebagai salah satu upaya menguatkan Kembali karakter positf siswa?

Salah satu teori yang disodorkan oleh Dr. William Glasser dalam teori kontrolnya, di mana di dalamnya mencuit tentang disiplin positif berkaitan dengan sebuah kontrol, baik yang berasal dari internal ataupun eksternal sebagai motivasi diri dalam suatu tindakan. Ternyata, terdapat beberapa miskonsep terkait dengan control diri, yang selanjutnya bahkan menjadi satu ilusi, di antaranya Ilusi guru mengontrol murid; Ilusi bahwa semua penguatan positif efektif dan bermanfaat; Ilusi bahwa kritik dan membuat orang merasa bersalah dapat menguatkan karakter; dan Ilusi bahwa orang dewasa memiliki hak untuk memaksa. Ilusi-ilusi tersebut memberikan miskonsepsi terhadap sebuah essensi controlling, artinya  persepsi bahwa guru mengontrol murid, kritik membuat orang merasa berslah, orang dewasa memliki hak memaksa dan penguatan posotf itu sangat efektif, merupakan satu ilusi kebenaran.

Beranjak dari pemikiran glasser itulah di saat teori kontrol itu merujuk pada tujuan yang ingin dicapai oleh setiap individu, dalam bentuk sebuah motivasi internal. Di saat muncul dalam dirinya sebuah motivasi terhadap capaian sesuatu maka akan terbentuk sebuah nilai-nilai kebajikan yang diyakininya hal ini dikuatkan dengan pemikiran Dr. Diane Gossen  mengaitkan nilai-nilai kebajikan yang diyakini seseorang maka motivasi intrinsiknya akan terbangun, sehingga menggerakkan motivasi dari dalam untuk dapat mencapai tujuan mulia yang diinginkan.

Merujuk pada suatu kekuatan nilai kebajikan yang dimiliki siswa, maka hal ini akan berdampak pada tumbuh dan terciptanya lingkungan posotf, baik di sekolah maupun di lingkungan keluarga. Di saat nilai-nilai kebajikan ini tertanam dalam diri individu, maka akan tercipta suatu karakter yang positif pula.

Sebagai salah satu upaya kita sebagai pendidiksebagai garda depan dalam proses pendidikan di sekolah, selayaknya kita dapat mencimptakan dan menumbuhkan lingkungan positif di sekolah, melalui penerapan disiplin positif yang tetap  berakar pada nilai kebajikan. Mulai dari pembuatan keyakinan kelas/sekolah  yang telah disepakati bersama, selanjutnya dengan pendalaman keyakinan kelas melalui identifikasi tabel T dan Y yang berjutng pada tabel TG-BTG-TM-BTM.

 


        Proses dalam penyusuna  keyakinan kelas, selayaknya mendasar pada nilai-nilai kebajikan yang telah disebutkan sebelumnya, akan tetapi terlepas dari nilai kebajikan tersebut, keyakinan kelas merupakan hasil tinjauan dari kesepakatan setiap siswa dalam menciptakan sebuah ruang kelas dan interaksi antar siswa yang kondusif. Disaat ruang kelas dan kondisi siswa yang kondusif, maka akan lebih mudah bagi siswa dalam melaksanakan pembelajaran, yang tentunya dalam hal ini guru tetap memiliki identifikasi terkait kebutuhan-kebutuhan dasar manusia, yang harus senantiasa terpenuhi.

Sebagai salah satu upaya mennciptakan budaya positif, maka diperlukan sosialisasi dan diseminasi dengan warga sekolah. Seperti halnya pada kegiatan aksi nyata, CGP melakukan diseminasi dnegan harapan akan memberikan progres yang membawa pada satu paradigma perubahan terkait budaya positif dan tergerak untuk mengimplementasikan di lingkungan sekolah.




 

Dalam proses diseminasi, guru diajak untuk mempraktikan langsung pada penyusunan keyakinan sekolah, yang mana sebelumnya diberikan gambran penyusunan keyakinan kelas mellaui tampilan video yang telah dibuat oleg CGP. Setelah eserta memahami alur penyususn keyakinan kelas, selanjutnya guru  diberikan pendampingan dalam membuat keyakinan sekolah.***Sekar

 

 

 


Minggu, 26 Mei 2024

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 1.4 #CGP ANGKATAN 10

 


PENERAPAN BUDAYA POSITIF

Oleh: Sekar Gumilang

Koneksi antar materi pada modul 1.4 berkaitan dengan budaya positif. Guru diibaratkan sebagai seorang petani yang memiliki peranan penting untuk menjadikannya tanaman subur. Sekolah diibaratkan sebagai tanah tempat bercocok tanam, sehingga dalam hal ini guru harus mengusahakan sekolah menjadi lingkungan yang menyenangkan , menjaga serta melindungi murid dari hal-hal yang idak baik.

Dalam Eksplorasi konsep terkait disiplin positi dan nilai-nilai kebajikan universal. Dr. William Glasser dalam Control Theory yang kemudian hari berkembang dan dinamakan Choice Theory, meluruskan beberapa miskonsepsi tentang makna ‘kontrol’. Teori Kontrol  menyatakan bahwa semua perilaku memiliki tujuan, bahkan terhadap  perilaku yang tidak disukai.

Hal lainnya terkait dengan budaya positif adalah menguatan nilai-nilai kebajikan yang harus senantiasa diterapkan oleh para guru baik dalam bentuk keyakinan kelas atau kesepakatan kelas.  Nilai kebajikan adalah sifat positif manusia yang merupakan fondasi kita berprilaku, sekaligus tujuan mulia yang ingin dicapai setiap individu. Melalui nilai kebiajikan maka akan meningkatnya motivasi intrinsic untuk mengerakan motivasi diri. Nilai kebajikan  berdasarkan versi 6 institusi/organisasi adalah beriman dan bertakwa; mandiri; bernalar kritis; berkebinekaan global;bergotong royong dan kreatif.

Nilai-nilai kebajikan di atas, perlu diterapkan melalui keyakinan kelas yang telah disepakati antara guru dan siswa. Disaat ada keyakinan kelas yang dilanggar, perlu adanya tindakan untuk mengubah indetitas gagal bergeser ke indentitas sukses.

Sebagai guru, kita perlu mengidentifikasi atas kegagalan yang dilakukan siswa, artinya dalam kegagalan tersebut ada beberapa kebutuhan dasar yang belum terpenuhi. Seperti yang dinyatakan Dr. William dalam teori kontrolnya bahwa ada suatu tujuan dibalih sebuah prolaku manusia. Yang selanjutnya Dr. William Glasser menjabarkan 5 kebutuhan dasar manusia yaitu : bertahan hidup (survival); penguasaan (power); merasa diterima (love & belonging); kesenangan (fun) dan kebebasan (freedom).

Kebutuhan akan bertahan hidup (survival) meliputi Kesehatan, rumah, makan, biologis dan keamanan; kebutuhan merasa diterima , dimana adanya keinginan untuk tetap tehubung dengan orang lain (teman, keluarga, guru, dan lai-lain), ia ingin menjadi bagian yang berharga; kebutuhan kebebasan di antaranya kebutuhan membuat pilihan, dimana murid harus diberikan kesempatan membuat pilihan dan bertanggung jawab atas pilihannya, dalam hal ini kebebasan bukan berarti membiarakan mereka berbuat apa saja; kesenangan  di antaranya menikmati apa yang mereka lakukan; dan penguasaan biasanya berawal dari murid measa kompeten, menjadi terampil diakui pencapaiannya sehingga ia ingin didengarkan dan berdampak.

Dalam upaya perwujudan budaya positif, selayaknya seorang guru harus mampu mengidentifikasi kegagalan murid yang tentunya ia lakukan karean ada tujuan yang ingin dibuktikan atau bahkan ada kebutuhan yang ingin dipenuhi oleh murid bersangkutan. Oleh karenanya, maka diperlukan proses segitiga restitusi, dimana

Langka-langkah restitusi di atas,  langkah pertama guru harus menstabilkan identitas, dengan peran menggeser identitas  murid dari identitas gagal ke identitas sukses.langkah kedua, guru guru men=mvalidasi tindakan yang salah, dimana dalam hal ini guru akan bergeser dari pemikiran stu=imulus respon menjadi pro aktif. Proses ini diakhiri dengan guru menanyakan keyakinan . saat prilaku telah divalisai dan identitas sukses telah stabil maka murid telah siap mengkaitkan keyakinannya  dengan tindakannya yang salah. Posisi control guru dalam hal ini memiliki 5 posisi yaitu penghumu, pembuat rasa bersalah; teman; pemantau dan manager.

Dari modul Budaya Positiff ini, banyak sekali hal-hal baru bagi saya, terutama pada proses restitusi dan posisi control guru. Secara praktek, saya sering melakukan hal ini dalam upaya menyelesaikan atau memahami kondisi murid, saat terjadi pelanggara baik terkait dengan tata tertib sekolah maupun budaya sekolah. Dari modul ini, ternyata apa yang saya lakukan merupakan bagian f=dari proses restitusi, meskipun secara tahapan yang dilakukan tidak lengkap sesuai dengan proses segitga restitusi. Selain itu, saya baru memahami, bahwa seorang guru memiliki beberapa posisi control dalam melakukan atau menguatkan posisi kebersalahan murid kearah budaya positif.



Selain itu, proses membuat keyakinan kelas, menjadi hal yang sangat menarik bagi saya, karena melalui proses pembuatan keyakinan kelas yang didasari  atas kesepakan murid dan guru, dapat membantu mengubah identitas gagal ke identitas sukses sebagaimana yang disebutkan dalam proses segitiga restitusi.

Perasaan yang saya rasakan saat ini adalah rasa optimistis dalam memahami dan menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan budaya positif, yang tentunya. Selain itu rasa bersalah dimana kadang-kadang saya menempatkan posisi control saya sebagai pembuat rasa bersalah, yang akhirnya dalam hal ini murid terasa jauh. Akan tetapi setelah saya memahami posisi control ini, hal yang ingin saya selalu terapkan adalah  ada saatnya sebagai posisi teman dan saatnya menjadi posisi manager. Sehingga sinergitas antara guru dan murid akan semakin terkendali.  Berikut adalah kesimpulan koneksi antara materi pada modul 1.4. 

Bagan Koneksi Antar Materi
modul 1.4

Penanaman budaya positif  yang pernah saya lakukan adalah  di saat saya berposisi sebagai teman. Proses ini dilakukan saat saya menghadapi prilaku siswa yang kurang memperhatikan dan respek terhadap beberapa guru. Hal ini disebabkan ia membutuhkan perhatian dan rasa ingin diterima. Pada saat itu saya memberikan motivasi dalam bentuk memberikan kepercayaan melalui menggeser identitas gagal kea rah identitas sukses, pada taham menstabilkan identitas. Dan setelah dilakukan proses diskusi, ada hal yang menjadikan diaberprilaku demikian, dan akhirnya menyadari, bahwa apa yang ia lakukan tidak tepat, dan upaya yang ingin ia lakukan adalan meyakinkan guru dan orang di sekitarnya bahwa ia adalah sosok pribadi yang bisa diandalkan.

Menurut saya, konsep ini sangat penting untuk diketahui dan dipahami oleh setiap guru. Akan tetapi paham saya tidak cukup, perlu diimplementasikan dan internalisasi diri. Hal yang dirasakan setelah mempelajari modul ini, selain optimis untuk menciptakan atmosfer positif di masa mendatang adalah berkembangnya pola pikir dalam mengatasi permasalah siswa, terutama dalam mengidentifikasi kebutuhan dasar siswa, yang dapat kita penuhi baik melalui proses restitusi jika ada hal yang dilakukan siswa keluar dari kesepakatan kelas yang  akhirnya menjadi keyakinan kelas. Hal ersebut diperlukan kpnsistensi dan kontinuitas pendampingan dam pembimbingan siswa dalam menciptakan budaya positid siswa, yang kelak akan menjadi karakter positidsebagai perwujudan nilai-nilai kebajikan.  (sekar_gumilang)










Kamis, 23 Mei 2024

KEYAKINAN KELAS (MODUL 1.4)

Oleh : Sekar Gumilang

Sebagai seorang guru dimana memiliki 5 peran kotrol sebagai penghukum, pembuat rasa bersalah, pemantau, teman dan manager selayaknya penting dalam menganalisis pentingnya memiliki keyakinan sekolah/kelas sebagai fondasi dan arah tujuan sebuah sekolah/kelas, yang akan menjadi landasan dalam memecahkan konflik atau permasalahan di dalam sebuah sekolah/kelas, dapat memahami serta  menjelaskan proses pembentukan dari peraturan-peraturan beralih ke keyakinan kelas juga  dapat berpikir kritis, kreatif, reflektif, dan terbuka dalam menggali nilai-nilai yang dituju pada peraturan yang ada di sekolah.

Berbicara keyakinan kelas  dapat berawal  dari sebuah permasalahan mengapa kita harus memiliki peraturan untuk menciptakan sebuah pembelajaran yang kondusif, di antaranya, siswa hadir tepat wwaktu, tidak menggunakan hP saat pembelajaran, tidak berbicara saat guru sedang memberikan materi pelajaran, dan sebagainya. Hal tersebut  tentunya menjadi satu dasar bagi seorang guru dalam membuat sebuah keyakinan kelas yang telah disepakati sebelumnya.

Mendasar dari nilai-nilai kebajikan yang merupakan sifat positif manusia sebagai fondasi kita dalam berprilaku, menjadi tujuan mulia yang ingin dicapai oleh setuap individu. Dari nilai kebajikan ini akan meningkatkan motivasi intrinsic yang selanjutnnya akan menggerakan motivasi diri. Cebagai contoh nilai kebajikan dari 6 institusi/organisasi yaitu beriman dan bertakwa; mandiri; bernalar kritis; berkebinekaanglobal; bergotong royong dan kreatif.

Nilai-nilai Kebajikan  menekankan pada keyakinan seseorang akan lebih memotivasi seseorang dari dalam. Seseorang akan lebih tergerak dan bersemangat untuk menjalankan keyakinannya, daripada hanya sekedar mengikuti serangkaian peraturan tertulis tanpa makna.

Beberapa tahapan dalam membuat keyakinan kelas sebagai berikut:

  • Keyakinan kelas bersifat lebih ‘abstrak’ daripada peraturan, yang lebih rinci dan konkrit.
  • Keyakinan kelas berupa pernyataan-pernyataan universal.
  • Pernyataan keyakinan kelas senantiasa dibuat dalam bentuk positif.
  • Keyakinan kelas hendaknya tidak terlalu banyak, sehingga mudah diingat dan dipahami oleh semua warga kelas.
  • Keyakinan kelas sebaiknya sesuatu yang dapat diterapkan di lingkungan tersebut. 
  • Semua warga kelas hendaknya ikut berkontribusi dalam pembuatan keyakinan kelas lewat kegiatan curah pendapat.
  • Bersedia meninjau kembali keyakinan kelas dari waktu ke waktu.

Berbagi aksi nyata yang telah saya lakukan melalui Langkah-langkah diatas. Saya menerapkan penyusunan keyakinan kelas di kelas 10 jurusan pariwisata pada program keahlian Usaha Layanan Pariwisata. Keyakinan kelas selain upaya untuk mengkondusifkan dalam pembelajaran, dalan hal ini saya ingin menerpakan pembentukan budaya sekolah yang diintgrasikan dengan budaya industry, khususnya dalam hal hospitality dan grooming.

Berikut hasil yang dikumpulkan melalui diskusi dan kesepakatan kelas 10 ULP 1 setelah diyakinkan dengan nilai-nilai kebijakan yang harus dimiliki individu, dan disesuaikan dengan budaya sekolah dan industry, dengan harapan akan terbentuk budaya positif siswa.

Tabel

Tampak seperti dan tidak tampak seperti

 

BERSIKAP  POSITIF

Tidak Tampak Seperti

Tampak Seperti

Datang terlambat

Datang tepat waktu

Tak acuh terhadap guru dan teman

Menyapa guru dan teman

Memakai seragam tidak sesuai 

Memakai seragam sesuai jadwal

Buku pelajaran tidak sesuai

Membawa buku pelajaran sesuai jadwal

Menggunakan make up berlebih

Menggunakan make up natural

 

PERCAYA DAN MENGHORMATI ORANG LAIN

Tidak Tampak Seperti

 Tampak Seperti

Tidak mendengarkan guru

Mendengarkan guru

Tidak menghormati guru dan teman

Menghormati guru dan teman

Tidak mengembalikan barang teman yang telah dipinjam

 Mengembalikan barang teman yang telah dipinjam

Memilih pilih teman

 Berteman/bermain dengan siapa saja

Berbicara kasar dan tidak sopan

 Berbicara dengan sopan

sumber : LMS CGP Modul 1.4

 


                                                                                               

 



  

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.3

 PROGRAM BERDAMPAK POSITIF BAGI MURID  MELALUI PENGELOLAAN ASET oleh: Sekar Gumilang A.        Refleksi      Pembelajaran pada modul 3 berka...